Pansus Penghambat Pencairan Dana Nasabah Jiwasraya

- Administrator

Jumat, 24 Januari 2020

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

oleh Yahya Bahasoan*

Akhir tahun 2019 masyarakat Indonesia dikagetkan dengan munculnya kasus dugaan korupsi PT Jiwasraya. Kasus ini menjadi perhatian publik ketika Kejaksaan Agung Republik Indonesia (Kejagung RI) mengambil alih penanganan kasus tersebut dari Kejaksaan Tinggi (Kejati) Prov. DKI Jakarta pada bulan Desember 2019 lalu. Kasus ini sendiri menyeruak sejak PT Jiwasraya gagal membayar polis JS Saving Plan sebesar Rp802 Miliar, yang merupakan produk unggulannya sendiri, pada bulan Oktober 2018. Namun jauh sebelum itu, tepatnya sejak tahun 2008, PT Jiwasraya sendiri sudah bermasalah secara keuangan. 

Lazimnya terdapat dua metode untuk menyelesaikan kasus dugaan korupsi PT Jiwasraya. Metode pertama adalah metode hukum yaitu hukum menjadi panglima sehingga proses penyelesaian masalah dari hulu hingga hilir murni menggunakan jalur hukum dan tidak diintervensi oleh politik. Metode kedua adalah metode non-hukum atau politis yaitu bahwa intervensi politik lebih mendominasi dibandingkan jalur hukum dalam menyelesaikan suatu kasus.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Terkait dengan kasus dugaan korupsi yang membelit PT Asuransi Jiwasraya, Pemerintah sejatinya telah menempuh metode hukum melalui penyidikan dan pemeriksaan yang dilakukan Kejagung RI terhadap berbagai pihak terkait. Selain itu, Kejagung juga telah melibatkan Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK RI) dan Pusat Pelaporan Analisis dan Transaksi Keuangan (PPATK) untuk membantu mengungkap kasus tersebut. Hingga saat ini, Kejagung RI telah menetapkan sejumlah tersangka kasus dugaan korupsi tersebut antara lain Hary Prasetyo (Direktur Keuangan Jiwasraya Periode 2008-2018. Hary Prasetyo sendiri sempat menjadi Tenaga Ahli Utama Kedeputian III Bidang Kajian dan Pengelolaan Isu-Isu Ekonomi Strategis di Kantor Staf Presiden (KSP) di bawah kepemimpinan Moeldoko pada tahun 2018 lalu.

Penetapan Hary Prasetyo tersebut memicu reaksi sejumlah Parpol. Posisi Hary Prasetyo sebagai mantan Tenaga Ahli Utama dibawah Moeldoko menimbulkan spekulasi adanya keterkaitan kasus dugaan korupsi PT Jiwasraya dengan Istana. Padahal, kasus ini sejatinya adalah dugaan korupsi murni yang tidak memiliki keterkaitan dengan Istana. Sebagai respon atas penetapan tersangka tersebut, setidaknya dua Parpol mengusulkan pembentukan Panitia Khusus (Pansus) Jiwasraya yaitu Partai Demokrat (PD) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Didi Irawadi menyampaikan, parlemen perlu mempertimbangkan pembentukan Pansus untuk menangani kasus PT Jiwasraya. Keberadaan Pansus dapat mempertajam proses investigasi dalam membongkar kasus Jiwasraya lebih detail. Serupa dengan Partai Demokrat, Anis Byarwati (Anggota Komisi XI DPR RI Fraksi PKS) menyampaikan, Pansus adalah mekanisme terbaik untuk mengusut tuntas kasus PT Jiwasraya karena masalah yang membelit PT Jiwasraya sangat sistemik.

Upaya PD dan PKS membentuk Pansus Jiwasraya adalah metode non-hukum atau politis dalam menyelesaikan kasus tersebut. Jelas sekali bahwa PD dan PKS berkeinginan membentuk Pansus tersebut karena berkeyakinan bahwa kasus dugaan korupsi Jiwasraya memiliki keterkaitan dengan Istana dengan indikasi bergabungnya Hary Prasetyo dalam KSP. Upaya ini hanya akan memperpanjang proses penyelesaian kasus Jiwasraya serta berpotensi menghambat upaya Kejagung membongkar kasus tersebut. Hal ini tentu saja berdampak pada proses pengembalian dana nasabah Jiwasraya yang akan memakan waktu semakin lama.

Oleh karena itu, marilah kita percayakan kepada Kejagung untuk segera membongkar kasus dugaan Jiwasraya sehingga para nasabah Jiwasraya cepat mendapat penggantian dari Pemerintah. Selain itu, Pemerintah perlu melakukan berbagai langkah lanjutan untuk menyehatkan keuangan PT Jiwasraya dan mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap PT Jiwasraya. Yang terpenting, segala upaya tersebut harus diikuti dengan pembenahan struktural dalam tubuh PT Jiwasraya dan membangun budaya anti korupsi dalam perusahaan sehingga kasus korupsi tidak terulang kembali di masa mendatang.

*Penulis adalah Pengamat Perekonomian

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Sering di Bilang Nakal? Bisa Jadi Anak Anda Perlu Pemahaman, Bukan Hukuman
Bireuen Kota Santri: Menggali Potensi Ekonomi Berbasis Syariah
Dirjenpas Menolak Fraud, Langkah Maju Untuk Reformasi Pemasyarakatan
Alpajuli Darat Kumandangkan Persatuan Indonesia
MTQ Aceh: Ajang Pengembangan Ekonomi Kreatif Masyarakat Simeulue
PERPUU NO. 2 TH 2022 CIPTA KERJA DAN UNJUK RASA BURUH 10-11 AGU 2023
Can Indonesia beat Argentine?
Kolaborasi Lintas Sektor untuk Tangani Permasalahan Depo BBM Plumpang

Berita Terkait

Senin, 14 April 2025 - 18:33 WIB

Sering di Bilang Nakal? Bisa Jadi Anak Anda Perlu Pemahaman, Bukan Hukuman

Kamis, 3 April 2025 - 16:16 WIB

Bireuen Kota Santri: Menggali Potensi Ekonomi Berbasis Syariah

Senin, 6 Mei 2024 - 16:21 WIB

Dirjenpas Menolak Fraud, Langkah Maju Untuk Reformasi Pemasyarakatan

Rabu, 24 Januari 2024 - 19:04 WIB

Alpajuli Darat Kumandangkan Persatuan Indonesia

Selasa, 28 November 2023 - 16:28 WIB

MTQ Aceh: Ajang Pengembangan Ekonomi Kreatif Masyarakat Simeulue

Berita Terbaru

Ketua DPW PPP Aceh, Dr H Amiruddin Idris SE M.Si menyerahkan bantuan sembako DPW PPP Peduli Bencana, kepada pengungsi di Kecamatan Jangka, Senin (1/12).

NANGGROE

DPW PPP Aceh Peduli Bencana Salurkan Bantuan Darurat

Rabu, 3 Des 2025 - 01:39 WIB

Wabup Bireuen, Ir H Razuardi MT menerima paket sembako bantuan PT Solusi Bangun Andalas (SBA) Indonesia di meuligoe Bupati, Minggu (30/11)

NANGGROE

Wabup Bireuen Terima Bantuan Banjir

Minggu, 30 Nov 2025 - 20:32 WIB