BIREUEN|METRO ACEH-Sebagai salah satu partai politik tertua di tanah air, Partai Persatuan Pembangunan (PPP) hingga kini terus berjuang menyahuti harapan rakyat. Khususnya di Provinsi Aceh, parpol Islam ini semakin berbenah melalui konsolidasi para kader dan pendukung yang tersebar dalam 23 kabupaten/kota.
Konsolidasi besar Partai Persatuan Pembangunan (PPP) di Aceh memasuki babak krusial. Musyawarah Cabang (Muscab) Dewan Pimpinan Cabang (DPC) se-Aceh bukan sekadar agenda rutin, tetapi momentum strategis untuk menguji soliditas kader, merawat ideologi, dan menata ulang kekuatan menuju Pemilu 2029.
Sekretaris Wilayah H Ilmiza Sa’aduddin Djamal, MBA didampingi Waka Informasi dan Komunikasi, Drs Asnawi, MPd, menegaskan, rangkaian Muscab akan dimulai dari Kabupaten Bireuen pada 26 April 2026 di Kota Juang. Tahapan ini menjadi titik awal konsolidasi menyeluruh PPP Aceh dalam memperkuat barisan hingga ke akar rumput.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Di Bireuen muncul tiga kandidat kuat yang akan bersaing secara sehat, untuk merebut posisi Ketua DPC. Dari internal, muncul nama Tgk Baharuddin Yusuf, figur ulama sekaligus pimpinan dayah yang kuat di basis akar rumput. Sementara itu, Dr Al-Furqan, akademisi dan pengurus harian DPC, hadir membawa kombinasi intelektualitas dan garis ideologis PPP yang kental sebagai putra dari almarhumah Dra Hj Nurbaiti A Gani, tokoh perempuan PPP Aceh
Sementara dari eksternal, nama Edi Saputra atau yang akrab disapa Edi Obama, menjadi magnet tersendiri. Sosok pengusaha sekaligus Ketua PMI Bireuen ini dinilai mampu menarik simpati publik dan memperluas basis elektoral PPP.
“PPP butuh energi baru tanpa kehilangan jati diri. Siapapun yang terpilih harus mampu mengembalikan kejayaan PPP sebagai kekuatan utama di DPRK Bireuen,” ujar salah seorang kader.Kontestasi di Bireuen bukan sekadar soal figur, tetapi tentang arah masa depan partai: antara penguatan basis tradisional, kesinambungan ideologi, dan ekspansi elektoral.
Sedangkan di ibu kota provinsi, suhu politik bahkan lebih tinggi. Muscab Banda Aceh yang dijadwalkan pada 27 April 2026 menghadirkan persaingan ketat antar kader terbaik. Nama-nama seperti Tgk Asnawi Amin (incumbent), Saifullah ST (Sekretaris DPC), dan Faisal Ridha (anggota DPRK) menjadi representasi kekuatan struktural partai.
Namun dinamika berubah dengan hadirnya dua srikandi: Syarifah Munira (anggota DPRK Banda Aceh tiga periode) dan Husniaty Bantasyam, mantan Ketua WPP Aceh. Kehadiran keduanya bukan sekadar pelengkap, tetapi simbol kebangkitan peran perempuan dalam tubuh PPP—membawa pesan bahwa regenerasi dan inklusivitas menjadi kunci masa depan partai.
“Ini pertanda baik. PPP tidak kekurangan kader. Justru inilah kekuatan kita yang banyak pilihan, banyak energi, satu tujuan,” ujar Ilmiza, Rabu (22/4/26) didampingi Bendahara DPW PPP, Zubir Muhammad.
Muscab kali ini tidak bisa dipandang sebagai agenda seremonial. Namun arena penentuan arah perjuangan PPP di Aceh, untuk bangkit kembali sebagai kekuatan politik yang layak diperhitungkan.
“Insya Allah, meski dalam dinamika yang kompetitif tapi semua kader PPP di Aceh, tetap solid dan cukup bijaksana untuk terus Berjuang bersama, menyahuti harapan rakyat demi masa depan yang lebih baik,” tutup Ilmiza. (Bahrul)






