oleh

Pasca Reformasi Korupsi Semakin “Gila”

Penulis : DJ Sembiring

Siang itu, gemuruh suara mahasiswa yang menggelar aksi demo, tumpah ruah di jalanan ibukota menuntut reformasi total. Bau asap dari kobaran api ban terbakar, di depan gedung DPR RI kian menambah ketegangan suasana. Ribuan massa terus berteriak “Turunkan Soeharto”.

Kenangan itu masih terngiang dalam sanubari setiap warga negara Indonesia, tepatnya 21 Mei 1998 akhirnya Presiden Soeharto lengser, setelah 32 tahun berkuasa memimpin negeri ini. Seluruh rakyat menyambut gembira, reformasi telah dimulai dengan harapan adanya perubahan sistem pemerintahan yang lebih baik, tanpa korupsi, kolusi dan nepotisme. Sehingga, masyarakat dapat hidup sejahtera.

 

Namun, seiring perjalanan waktu yang bergulir, ternyata harapan-harapan mulia ini menjadi sirna, akibat keserakahan para elit politik yang mengaku reformis, berhasil mengambil alih kekuasaan. Lalu dengan segala tipu daya, bersama kroni-kroninya mereka menggerogoti republik ini.

Meski 24 tahun sudah reformasi bergulir, tapi harapan masa depan lebih baik dari kepemimpinan orde baru, belum menjadi kenyataan. Dengan kondisi tersebut, kita dapat memetik suatu pelajaran yang sangat penting, bahwa pemerintahan perlu memiliki kewibawaan. Disamping itu, dalam mengelola negara diperlukan sikap negarawan yang disiplin dan tegas, bukan hanya sebatas retorika seolah terbuka demi demokrasi yang semu. Lalu, membiarkan korupsi merajalela di semua sektor lembaga pemerintah, serta berbagai instansi negara.

Setelah dua dekade lebih era reformasi, KKN makin subur di negeri tercinta kita dan hingga saat ini semakin menggila. Hampir di semua lini, indeks korupsi terus meningkat seperti tak terkendali. Bahkan, kebebasan berekspresi yang dijamin undang-undang, kian dibatasi demi kenyamanan oligarki.

Sehingga, kita semua patut mengingat bahwa mandat rakyat, melalui pemilu dan pilpres 2024 mendatang, sangat menentukan kepemimpinan bangsa di masa depan. Seluruh masyarakat tanah air, sudah seharusnya menyalurkan aspirasi politik sesuai hati nurani, demi menyelamatkan negara ini dari ambang kehancuran.

Sebuah pilihan kita dalam pileg, pilkada maupun pilpres 2024 mendatang, sangat menentukan nasib dan masa depan dalam membangun dan menjaga negara kita tercinta ini. Rakyat perlu mengingat bagaimana sejarah orde baru hingga era reformasi ini, supaya tidak lagi tergiur dan hanyut dengan janji-janji para politisi yang kerap mendustai rakyat. Karena kini kenyataan yang kita rasakan, sebenarnya berbalik arah dengan gambaran sukses yang diilustrasikan oleh penguasa negeri.

Mau tidak mau, semua pihak sepatutnya berani mengakui, tentang kekurangan dan kekhilafan yang sedang berlangsung di depan mata publik. Hal itu, juga tidak lah tabu untuk dibicarakan di alam demokrasi. Semoga tulisan ini bermanfaat, serta mampu membuka hati kita tentang perjalanan bangsa dan negara yang sangat kita cintai. Sehingga, kelak kita akan selalu menjauhkan diri dari politisi yang berupaya menyuap kita demi memilih mereka, karena kelak mereka juga akan terus menggerogoti negara kita melalui kekuasaan yang telah kita mandatkan, untuk mengatur sistem pemerintahan d Indonesia.

*Penulis merupakan pengamat sosial yang menjabat Wakil Ketua Umum DPP Corruption Investigation Commite.

Komentar