BIREUEN|METRO ACEH – Setiap menjelang musim tanam padi, diawali penetapan jadwal musim tanam oleh Pemkab Bireuen. Namun pasca bencana banjir 2025 lalu turut merusak bendung dan jaringan irigasi, saat ini Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) belum bisa tetapkan jadwalnya.
Hal tersebut disampaikan oleh Kadistanbun Bireuen, Mulyadi, SE.,MM melalui Kabid Tanaman Pangan dan Hortikultura, Nasriati, SP yang ditanyai Metro Aceh terkait hal tersebut, Jumat (23/10) pagi.
Dijelaskan bahwa pihaknya belum bisa menentukan jadwal musim tanam Se-Kabupaten Bireuen karena saat ini masih menunggu kepastian pasokan air irigasi dari pihak Balai Wilayah Sungai Sumatera 1 (BWS) di Banda Aceh.
Sebelumnya pihak BWS telah menyampaikan penyediaan air irigasi ditargetkan siap pada bulan Oktober 2026. Kecuali yang saluran tersier belum diperbaiki.
Sesuai saran dari Kadistanbun, agar tidak ditetapkan jadwal tanam karena ketersediaan air irigasi belum normal 100 persen sehingga kebutuhan air sawah dibutuhkan petani nantinya dikhawatirkan tidak ada.
“Sehingga saya mengintruksikan kepada semua koordinator, jika mau tanam padi tergantung pada iklim, jika memungkinkan untuk ditanam silahkan ditanam padi,” sebutnya.
Sementara itu, Distanbun juga masih menunggu instruksi dari BWSS terkait sejauhmana sudah suplai air irigasi dan normal seluruhnya untuk bisa ditetapkan jadwal tanam padi.
Begitu juga bagi petani yang ingin menanam padi saat ini kami tidak melarang apalagi saat ini curah hujan sudah sangat tinggi dan juga dapat memanfaatkan suplai air yang ada dalam irigasi meski belum merata, ungkap Kabid Tanaman Pangan dan Hortikultura.
Sementara itu, Kadistanbun Bireuen, Mulyadi menambahkan terkait perbaikan sawah rusak akibat banjir atau bencana hidrometeorologi yang terjadi, Selasa-Rabu 25-26 November 2025 lalu menjelaskan.
Luas sawah ringan data
terakhir 2.736 hektar, dari jumlah tersebut sudah selesai dilakukan perbaikan pemerintah seluas 1.940 hektar, sumber anggarannya dari Kementerian Pertanian, selebihnya telah diperbaiki sendiri oleh petani.
Kemudian, sawah rusak sedang 677 hektar juga telah diperbaiki dan hasil verifikasi bulan Juli hingga September yang semula rusak berat seluas 1.323 hektar. Akibat ada penurunan sindimen dan hasil musyawarah dengan petani serta aparat gampong maka ada 1.019 hektar yang bisa direhab menggunakan anggaran rusak sedang.
Saat ini sedang dikerjakan dengan pola swakelola tipe 2 dalam hal ini dilaksanakan oleh TNI. Sedangkan yang belum tertangani tahun ini akan ditangani tahun depan, terang Kadistanbun. (Rahmat Hidayat)






