BIREUEN|METRO ACEH-Memperingati Hari Kesiapsiagaan Bencana (HKB), DMC Dompet Dhuafa berkolaborasi dengan Pemerintah Kabupaten Bireuen melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan serta Yayasan JDP28, menyelenggarakan Bimbingan Teknis (Bimtek) Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB). Kegiatan ini menjadi pionir di Pulau Sumatera yang dimulai dari Kabupaten Bireuen, Provinsi Aceh.
Turut Hadir Pada acara ini, Kepala Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa dan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bireuen.
Mewakili Dompet Dhuafa, Achmad Lukman menjelaskan bahwa pelatihan ini diikuti oleh 100 peserta dari 20 sekolah yang terbagi dalam dua gelombang. Setiap sekolah mengirimkan 5 orang utusan untuk memastikan efektivitas implementasi program di lapangan.
“Kesiapsiagaan bencana adalah investasi jangka panjang. Dengan meningkatkan kapasitas guru sebagai fasilitator lokal, maka risiko serta dampak bencana di lingkungan pendidikan dapat diminimalisir secara signifikan. Kami ingin memastikan ilmu keselamatan ini terdismineasi secara berkelanjutan melalui simulasi mandiri dan latihan bersama di tiap sekolah,” ujar Achmad Lukman.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bireuen, Dr Muslim, M.Si, menekankan pentingnya manajemen mitigasi yang sejalan dengan perbaikan infrastruktur. Saat ini, pihaknya sedang mempercepat pemulihan fasilitas pendidikan pasca-banjir dengan sistem pendataan berbasis koordinat dan foto yang akurat.
“Hingga kini, sekitar 90% sekolah terdampak telah masuk tahap verifikasi perbaikan. Namun, selain fisik, edukasi adalah kunci. Kami berkomitmen mendampingi sekolah agar para guru memiliki pengetahuan yang tepat untuk melindungi siswa, yang merupakan kelompok paling rentan saat situasi darurat,” jelas Muslim. Ia juga mengapresiasi respon cepat Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah dalam meninjau kondisi sekolah di Bireuen.
Wakil Bupati Bireuen, Ir. Razuardi, M.T. dalam arahannya, memberikan dukungan penuh terhadap penguatan kapasitas SDM di sektor pendidikan untuk menghadapi risiko banjir dan tanah longsor di wilayah tersebut.
“Sekolah harus menjadi lingkungan yang tangguh dan aman bagi anak-anak kita. Saya berharap para tenaga pendidik tidak hanya mampu mengidentifikasi risiko dan menyusun rencana evakuasi, tetapi juga menjadi agen perubahan yang menyebarluaskan budaya sadar bencana,” tegas Ir. Razuardi saat membuka acara.(Bahrul)






