“Asrama Nusantara dan Bhineka Tunggal Ika”

- Administrator

Minggu, 16 Februari 2020

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : Almira Fhadillah

Frasa yang memiliki makna “Berbeda-beda Tetapi Tetap Satu”, itulah arti dari “Bhineka Tunggal Ika” semboyan yang tertulis pada lambang negara Indonesia. Keberagaman yang mewarnai Indonesia, ini menjadikan Negara Indonesia memiliki berbagai corak dalam budaya, Bahasa, adat istiadat, bahkan pemikiran. Corak yang berwarna-warni ini memberikan keunikan serta merupakan tantangan bagi masyarakat Indoensia sendiri, untuk tetap bersatu dalam keberagaman. 

Jika kita kembali melihat histori maka, “Bhineka Tunggal Ika” bukan hanya sekedar semboyan negara, tetapi memiliki makna falsafah ilmu yang sangat dalam, tinggi, dan bermanfaat sekali dalam cara membangun hubungan sosial dan bermasyarakat. Indonesia yang terdiri dari ragam kultur budaya, adat-istiadat, dan terlebih agama, sudah semestinya menjadi contoh bahwa didalam keberagaman terdapat kekuatan “Persatuan” yang justru menjadi kekuatan untuk tetap bersama dan menjadi negara yang lebih Kokoh. 

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namun dalam realitanya, Bulan Agutus tahun 2019 lalu terjadi pecahnya isu rasisme, yang terjadi antara Mahasiswa Papua dengan Ormas di Malang, Jawa Timur, hal ini secara langsung memicu berbagai respon serta gerakan separatisme di wilayah Papua sendiri. Hal ini cukup miris dan perlu menjadi evaluasi bagi kita semua, karena masalah persatuan dan kesatuan, merupakan aspek yang harus dipupuk oleh seluruh kalangan masyarakat.

Pecahnya permasalahan mahasiswa papua di Malang, Jawa Timur dan masalah separatisme di tanah Papua, menjadi evaluasi perlunya peningkatan identitas bangsa dan nasionalisme di kalangan generasi muda, dan melalui pembangunan “Asrama Nusantara”, menjadi salah satu solusi untuk memupuk rasa persatuan dan kesatuan serta membuat generasi muda lebih mengenal keberagamaan Indonesia lebih mendalam. 

Menurut rencana pemerintah, Asrama Nusantara akan dibangun di Manado, Makassar, Jakarta, Yogyakarta, Surabaya dan Malang. Dan Konsultan pembangunan Asrama Mahasiswa Nusantara dari Universitas Indonesia (UI), Gumilar mengungkapkan bahwa kapasitas asrama yang dirancang bisa menampung 250 hingga 750 mahasiswa. Di dalam asrama tidak hanya kamar saja. Tapi juga ada perpustakaan dan ruang pembinaan. Dan Asrama ini diperuntukkan bagi seluruh mahasiswa di Indonesia, terutama dari Aceh, Papua, NTT, Kalimantan, Maluku. 

Asrama Nusantara sendiri selain sebagai solusi juga sebagai sarana atau nantinya bisa menjadi percontohan bagi keberagaman Indoenesia, karena melalui pembangunan Asrama Nusantara, pemahaman tentang adat istiadat, Bahasa, pemikiran serta agama lain dapat diterima lebih baik, dan hal ini bisa ditularkan kepada orang-orang kampung halamannya nanti. Secara tidak langsung Asrama Nusantara ini dapat meluruskan, pemikiran yang salah sebelumnya tentang suatu kelompok atau ideologi yang selama ini dianggap benar, seperti halnya pemahaman tentang “separatisme”.

Sebelumnya pemahaman separatisme sendiri, juga telah memasuki beberapa wilayah di Indonesia, belum terselesaikannya masalah separatisme ini, menjadi salah satu “PR” bagi kita semua, terutama pemerintah, para akademisi serta Tomas untuk ikut serta terlibat langsung dalam penyelesaian kasus separatisme. Separatisme sendiri masih terus berkembang karena masih adanya oknum atau tokoh-tokoh tertentu seperti, Benny Wenda (Ketua Gerakan Persatuan Pembebasan Papua Barat/ULMWP). 

Aksi provokasi, dan pencarian dukungan kemerdekaan tanah Papua terus digalakkan, hal ini menjadikan kelompok-kelompok separatis ini mencari agenda untuk menjatuhkan citra pemerintah Indonesia sendiri, dengan mengangkat berbagai Isu HAM, rasisme dan kriminalisasi di tanah Papua, tetapi kita tidak boleh lupa bahwa kelompok-kelompok semacam ini sengaja memanfaatkan momentum serupa guna meraih tujuan meraka. 

Dengan demikian melalui pembangunan Asrama Nusantara serta berbagai pendekatan prevenif lainnya, dapat mengurangi pemahaman separatisme di kalangan masyarakat terutama generasi muda, sehingga pemahaman keberagaman dapat dipahami menyeluruh dan terwujudnya sikap “Persatuan dan Kesatuan” yang solid. 

 

(Penulis: Pasca Sarjana Univ. Gunadarma)

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Pelaksanaan program pemerintah : ex nihilo nihil fit dan amor vincit onia
Keamanan Energi Indonesia Terjaga, Peluang Resesi Tidak Terlihat
MBG : Solusi cerdas dan patriotis mempersiapkan generasi tangguh masa depan
Memprediksi berakhirnya perang Iran vs Amerika Serikat dan Israel
Sering di Bilang Nakal? Bisa Jadi Anak Anda Perlu Pemahaman, Bukan Hukuman
Bireuen Kota Santri: Menggali Potensi Ekonomi Berbasis Syariah
Dirjenpas Menolak Fraud, Langkah Maju Untuk Reformasi Pemasyarakatan
Alpajuli Darat Kumandangkan Persatuan Indonesia

Berita Terkait

Kamis, 2 April 2026 - 21:15 WIB

Pelaksanaan program pemerintah : ex nihilo nihil fit dan amor vincit onia

Jumat, 27 Maret 2026 - 18:47 WIB

Keamanan Energi Indonesia Terjaga, Peluang Resesi Tidak Terlihat

Kamis, 26 Maret 2026 - 18:10 WIB

MBG : Solusi cerdas dan patriotis mempersiapkan generasi tangguh masa depan

Kamis, 26 Maret 2026 - 17:43 WIB

Memprediksi berakhirnya perang Iran vs Amerika Serikat dan Israel

Senin, 14 April 2025 - 18:33 WIB

Sering di Bilang Nakal? Bisa Jadi Anak Anda Perlu Pemahaman, Bukan Hukuman

Berita Terbaru

Kepala BIN RI, Jenderal (Purn) Muhammad Hendra melantik pengurus yayasan AMANAH di Ladong, Kamis (23/4)

NANGGROE

Bupati Bireuen Hadiri Relaunching AMANAH

Kamis, 23 Apr 2026 - 20:31 WIB

Bupati Bireuen, H Mukhlis ST

NANGGROE

Pekan Depan Tim Survei Mulai Verifikasi Data Korban Banjir

Kamis, 23 Apr 2026 - 00:19 WIB

NANGGROE

Bupati Buka Rakor GTRA 2026

Rabu, 22 Apr 2026 - 17:16 WIB