BIREUEN|METRO ACEH-Menyikapi kondisi kerusakan jembatan di Gampong Lawang, Kecamatan Peudada yang ambruk diterjang air dua hari lalu, Bupati Bireuen H Mukhlis ST mengerahkan escavator pribadinya, untuk memperbaiki akses transportasi masyarakat pedalaman tersebut.
Informasi yang diperoleh Metro Aceh menyebutkan, jembatan penghubung warga ini hancur diterjang air bah, pasca hujan deras yang mengguyur kawasan itu, Selasa malam lalu. Dampaknya, akses transportasi masyarakat setempat terganggu, akibat jembatan terputus digerus banjir yang tiba-tiba muncul.
Sehingga, dalam dua hari terakhir warga dari beberapa desa di kawasan ini tidak bisa lagi melintas, serta kesulitan mengangkut hasil kebun. Sejumlah tokoh masyarakat Peudada, melaporkan kondisi buruk tersebut kepada Bupati Bireuen, agar segera ditangani oleh Pemerintah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Lantas, Rabu pagi H Mukhlis turun meninjau lokasi bencana alam ini, kemudian setelah melihat langsung kondisi terdampak itu dan berdiskusi dengan dinas terkait, lalu Bupati Bireuen segera bersikap mengerahkan alat berat milik pribadi, guna memperbaiki sarana umum yang rusak itu.
“Saya melihat langsung dan bisa merasakan kesusahan saudara-saudara kita di kawasan pedalaman Peudada itu, akibat dampak dari kerusakan jembatan penghubung, sehingga perlu penanganan cepat dan tepat,” ungkap H Mukhlis saat ditemui media ini, Kamis (10/4).
Agar proses penanganan tidak berbelit-belit dan akses jalur penghubung masyarakat ini, segera tertangani dengan baik. Maka, dirinya mengambil sikap menurunkan alat berat milik pribadi tanpa membebankan biaya dari anggaran pemerintah.
“Alhamdulillah, kita harapkan perbaikan jembatan darurat ini selesai dalam tiga hari, sehingga warga sudah dapat melintas kembali. Insya Allah, nanti jika anggaran sudah tersedia tentu akan dibangun yang lebih baik lagi,” jelasnya.
Beberapa warga mengaku berterimakasih atas kepedulian, serta respon Bupati Bireuen yang sangat tanggap menyikapi kerusakan jembatan Lawang itu. Menurut sumber ini, seluruh pekerjaan penanganan jembatan darurat, turut dibantu oleh masyarakat setempat dengan bahu membahu membangun kembali jembatan darurat dari batang pohon kelapa, berukuran 6 X 6 meter. (Bahrul)






