BIREUEN|METRO ACEH – Guna meningkatkan skill untuk dapat menghasilkan fashion yang menarik dan diminati di pasar internasional. 30 kaum peserta ikuti pelatihan, dibuka Wakil Bupati Bireuen, Ir H Razuardi, MT di Opprom Kapuspemkab, Jumat (3/7) pagi.
Keterangan diperoleh Metro Aceh, acara bertajuk, Pelatihan Impactful Program Bank Indonesia, Pelatihan Inovasi Wastra Nusantara Updskilling Fashion Kelompok Tenun dan Bordir tersebut dilaksanakan dari tanggal 3 s.d. 17 Juli 2026 .
Wakil Bupati, Ir H Razuardi, MT dalam sambutan antara lain mengatakan, selama ini melihat tantangan terbesar pengrajin adalah bagaimana mengubah kain tradisional menjadi produk pakaian jadi (ready to wear) modern, nyaman, diminati pasar lokal dan internasional tanpa menghilangkan esensi budayanya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Saya harapkan peserta dapat menyerap ilmu teknik dalam pembuatan pakaian siap pakai secara maksimal dari instruktur, dan lahir inovasi-inovasi desain baru yang segar, sehingga produk wastra Bireuen mampu bersaing di industri fashion modern,” harapnya.
Diharapkan juga usai mengikuti pelatihan ini, kelompok UMKM Fashion binaan, dapat tumbuh menjadi pilar ekonomi yang mandiri dan membuka lapangan kerja baru di Bireuen, ujar Wabup.
Sebelumnya, Perwakilan Bank Indonesia Lhokseumawe, Lisma Anugerah Maulana mengatakan, kegiatan ini memang salah satu tugas dan fungsi dari Bank Indonesia yang tujuannya yaitu mendukung stabilitas sistem keuangan, keuangan inklusif, maupun juga untuk mendukung ekonomi keuangan syariah.
Sementara itu, Ketua Dekranasda Bireuen, Sadriah, SKM.,MKM dalam sambutannya mengatakan, kegiatan pelatihan ini diinisiasi Dekranasda Bireuen dan alhamdulillah disambut sangat baik Bank Indonesia.
“Kita ingin wastra atau kain tradisional kita naik kelas, dan melalui pelatihan ini kita berkomitmen untuk mencapai beberapa target nyata,” harap Ketua TP-PKK Bireuen itu.
Sadriah menjelaskan juga tiga target itu pertama, pengayaan kreativitas, peserta berani mengombinasikan warna dan motif lokal dengan tren warna dunia. Kedua, diversifikasi produk, tidak saja menghasilkan kain meteran, tetapi mampu mengubahnya menjadi pakaian siap pakai (ready to-wear), tas, atau aksesori bernilai jual tinggi.
Ketiga, kemandirian ekonomi yaitu mendorong kelompok tenun dan bordir kita menjadi motor penggerak ekonomi keluarga serta daerah, terangnya.
“Mari kita tunjukkan produk kriya dan fashion etnik Bireuen, mampu bersaing tidak hanya di tingkat lokal, juga di panggung nasional, bahkan internasional,” harap Sadriah.
“Selamat berlatih, teruslah berkarya, jadilah perempuan perempuan mandiri yang menginspirasi,” tutur istri Bupati Bireuen tersebut. (Rahmat Hidayat)






