SABANG|METRO ACEH-Diantara deretan destinasi bahari di Kota Sabang, Pulau Klah hadir sebagai pilihan yang menawarkan keindahan alami sekaligus ketenangan. Pulau kecil di kawasan Teluk Sabang ini dikenal dengan perpaduan panorama bawah laut, perbukitan hijau, serta suasana yang jauh dari hiruk-pikuk keramaian.
Pulau Klah dapat dijangkau melalui penyeberangan singkat dari kawasan Krueng Raya dengan waktu tempuh sekitar 15 menit menggunakan perahu. Dari jalur Pelabuhan Balohan menuju pusat kota, siluet pulau ini tampak jelas, seakan menjadi penanda selamat datang bagi wisatawan yang tiba di Pulau Weh.
Kepala Dinas Pariwisata Kota Sabang, Harry Susethia, menyebut Pulau Klah sebagai salah satu destinasi yang memiliki daya tarik kuat, terutama dari sisi keindahan bawah lautnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Pulau Klah menawarkan pengalaman wisata yang memadukan pesona bawah laut dan panorama perbukitan dalam satu kawasan. Ini menjadi salah satu destinasi unggulan yang terus kami dorong pengembangannya,” ujarnya.
Perairan di sekitar pulau ini terkenal jernih, memungkinkan wisatawan menikmati pemandangan bawah laut bahkan dari permukaan. Terumbu karang yang masih alami menjadi habitat berbagai jenis ikan tropis berwarna-warni. Salah satu titik yang populer di kalangan penyelam adalah area yang dikenal sebagai “Kampung Nemo”, tempat ikan badut kerap terlihat berenang di antara anemon laut.
Selain snorkeling dan diving, kawasan ini juga kerap dimanfaatkan untuk aktivitas memancing. Banyak wisatawan datang untuk merasakan sensasi memancing di perairan lepas Samudera Hindia yang membentang luas di sekitar Sabang.
Keindahan Pulau Klah tidak hanya terletak di bawah laut. Dari ketinggian Klah View Point atau Puncak Cot Batree, wisatawan dapat menyaksikan panorama spektakuler berupa perpaduan laut biru dan hamparan hijau vegetasi. Dari titik ini, Pulau Klah tampak seperti permata kecil yang mengapung di tengah lautan.
Di kawasan perbukitan tersebut, tersedia pondok-pondok sederhana sebagai tempat beristirahat. Sambil menikmati rujak Aceh atau kelapa muda, pengunjung bisa bersantai sembari menunggu momen matahari terbenam. Senja di kawasan ini menjadi salah satu daya tarik yang kerap diburu wisatawan dan pecinta fotografi.
Ketua Pokdarwis Krueng Raya, Irwansyah, mengatakan keberadaan Pulau Klah turut memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat setempat.
“Wisatawan biasanya menyeberang sekitar 15 menit untuk snorkeling. Kami bersama masyarakat terus menjaga ekosistem laut agar tetap alami dan nyaman dikunjungi,” katanya.
Ia menambahkan, peran masyarakat sangat penting dalam menjaga kelestarian kawasan. Edukasi kepada pengunjung terus dilakukan agar tidak merusak terumbu karang maupun membuang sampah sembarangan.
Sebagai pulau yang tidak berpenghuni, Pulau Klah menawarkan suasana yang sunyi dan eksklusif. Tidak adanya bangunan permanen justru menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang ingin menikmati alam secara lebih intim.
Waktu terbaik untuk berkunjung adalah saat cuaca cerah, terutama pagi hingga sore hari. Kondisi laut yang tenang membuat aktivitas snorkeling lebih aman, sementara menjelang senja, langit yang berubah warna menciptakan suasana romantis yang memikat.
Pemerintah daerah terus mendorong pengelolaan kawasan berbasis keberlanjutan. Konsep wisata ramah lingkungan menjadi prioritas agar pertumbuhan kunjungan tidak merusak ekosistem yang ada.
Sebagai pelengkap destinasi seperti Pantai Iboih dan Kilometer Nol Indonesia, Pulau Klah memperkuat citra Sabang sebagai gerbang wisata paling barat Indonesia.
Dengan kombinasi petualangan bawah laut dan panorama dari ketinggian, pulau ini menghadirkan pengalaman wisata yang utuh. Di satu sisi, wisatawan dapat menikmati kehidupan bawah laut yang kaya, sementara di sisi lain dapat merasakan ketenangan alam dari puncak perbukitan.
Di ujung barat Nusantara, Pulau Klah berdiri sebagai simbol harmoni antara alam dan manusia—keindahan yang tetap terjaga karena dirawat bersama. (red)






