BIREUEN|METRO ACEH-Guna membuka akses penyeberangan bagi masyarakat, pasca putusnya jembatan rangka baja yang diterjang banjir bandang. Saat ini disiapkan Jembatan Apung Kepala Hiu untuk menyeberang dari Gampong Pante Lhong, Kecamatan Peusangan ke Pante Baro Kumbang, Kecamatan Peusangan Siblah Krueng.
Sebagai tanda akan difungsikannya jembatan kontruksi kayu sepanjang 55 meter dengan lebar 2.5 meter itu, digelar prosesi peusijuk atau tepung tawar oleh Tgk Zulfahmi juga Imum Chik Kemesjidan Nurul Huda Gampong Raya Tambo, Kamis (7/5) pagi.
Pemilik Jembatan Apung Kepala Hiu, Muakhir (32) warga Gampong Neuheun, Kecamatan Peusangan kepada Metro Aceh ditanyai dilokasi mengatakan, dibuka akses jalan lewat jembatan apung itu tujuannya untuk mempermudah masyarakat dan tidak harus antri.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Hari ini lagi disiapkan lantai jembatan untuk jalan masuk. “Satu unit sepeda motor yang melintas hanya membayar Rp 5.000 untuk biaya operasional ada 20 orang pekerja setiap hari jaga di jembatan dan mengobrol kondisi debit air sungai sehingga jembatan itu bisa dibawa ke pinggir sungai,” jelasnya.
Jembatan ini sistem semi hidrolik bisa dibawa kepinggir saat kondisi debit air sungai deras dan meningkat agar tidak rusak apabila terkena sampah hanyut dan setelah itu bisa kembali di tarik ke tengah sungai karena semi hidrolik ditarik pakai tali seling, terangnya.
Rahmat seorang pekerja mengatakan jembatan ini menggunakan bahan kayu dan juga lebih 60 drum plastik ini lebarnya 2.5 meter. Pembangunan jembatan dilakukan dalam waktu 15 haru terakhir. “Lokasi ini dipilih karena luas sungai tidak terlalu luas dari lokasi lainnya,” ujarnya.
“Satu sepeda motor biayanya hanya Rp 5000 dan untuk warga menyeberang jalan kali itu gratis. Jembatan ini di bagun agar masyarakat lebih dekat untuk menuju ke Pante Lhong dan Kecamatan Peusangan, begitu juga warga ingin ke Peusangan Siblah Kreung,” terangnya.
Keuchik Pante Lhong, Murizal kepada Metro Aceh dilokasi mengatakan keberadaan jembatan ini mengulang sejarah lama yang mana dulu pada tahun 1970-an masyarakat yang mau ke seberang pakai gatek dan perahu, sebab dulu belum ada jembatan.
Baru pada tahun 1979 lahirlah jembatan gantung pertama di Pante Lhong ke Gampong Kubu, setelah itu tahun 1990-an dibangun jembatan rangka baja Pante Lhong dan saat ini telah putus diterjang banjir bandang Rabu 26 November 2025.
Dikatakan juga jembatan alternatif itu dinamakan Jembatan Apung Kepala Hiu karena banyak menggunakan kayu lancip seperti ujung perahu dibagian depan pelampung drum plastik yang berfungsi untuk pemecah air.
“Jembatan ini sudah semi hidrolik saat masuk informasi dari atas kondisi debit air sungai naik dan banyak sampah hanyut, tali di bagian tepi Gampong Pante Baro Kumbang dilepas agar jembatan bisa dibawa ke pinggir sungai Pante Lhong dan nanti bisa ditarik lagi ketengah pakai seling,” jelas Keuchik. (Rahmat Hidayat)






