BIREUEN|METRO ACEH-Mencuatnya berbagai isu negatif terkait pengelolaan aset Yayasan Al Muslim Peusangan, serta potensi kekisruhan dan perpecahan masyarakat menjelang Musyawarah Al Muslim (MUSLIM) ke X akhir tahun ini, mendapat perhatian serius Dr H Amiruddin Idris SE M.Si selaku salah satu tokoh pendiri Perguruan Tinggi milik masyarakat Peusangan Raya.
Mantan Rektor Universitas Al Muslim ini, saat ditemui awak media, Minggu (1/11) mengaku cukup prihatin atas kondisi Yayasan Almuslim saat ini. Baik pengelolaan aset wakaf, maupun kepengurusan yayasan yang terkesan bertolak belakang dengan visi dan misi pendirian lembaga pendidikan itu.
“Kami berharap agar pengelolaan Yayasan Almuslim, benar-benar bermartabat karena semua ini milik umat yang diwakafkan demi kepentingan masyarakat luas,” ungkap Amiruddin Idris.
Dia meminta, semua pihak mengembalikan ruh Almuslim sesuai niat dan tujuan para pendahulu, untuk menjadi lembaga yang kredibel dalam mendidik generasi intelektual Islam di Aceh. Ironisnya, kini pengelolaan yayasan mulai menuai sorotan publik, akibat munculnya berbagai kejanggalan yang sulit diterima akal sehat.
Diantaranya sebut Amiruddin, munculnya hal-hal yang dianggap aneh oleh masyarakat, seperti pembuatan akte notaris ke Bogor, menggunakan aset wakaf sebagai agunan pinjaman ke Bank, serta berbagai persoalan lain yang menimbulkan tanda tanya publik terhadap pengelolaan Yayasan Almuslim.
Menurut Amiruddin Idris, jika isu kontradiktif ini terus berkembang liar, maka para pemilik suara sepatutnya mengevaluasi kinerja para pengurus dan jika perlu dilakukan reformasi, demi kebaikan serta kemaslahatan lembaga pendidikan ini.
“Kita berharap, agar MUSLIM ke X nanti, bisa berlangsung secara adil dan semua pihak, dapat menghormati hak para pemilih yang memiliki mandat masyarakat Peusangan Raya,” ujarnya.
Ditandaskannya, sebelum penyerahan ke pengurus baru nantinya, patut dilakukan audit oleh auditor independen atas seluruh pengelolaan keuangan selama enam tahun terakhir, supaya mampu menjawab berbagai pertanyaan publik. Mengingat, ini merupakan aset masyarakat yang diamanahkan kepada para pengurus yayasan.
Amiruddin mengharapkan, MUSLIM ke X bisa berlangsung aman, lancar dan tertib, seperti MUSLIM ke IV hingga MUSLIM ke VIII yang pernah diikutinya dan berjalan dengan penuh semangat kebersamaan.
Dia menjelaskan, dimasa awal berdirinya Universitas Al Muslim warisan dari tokoh dan para ulama Aceh, hingga tahun 1985 dirinya ikut menjadi pendiri Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah. Yayasan kala itu diketuai MA Jangka, serta melibatkan H Ilyas Daud Lc (alumni Al Azhar Kairo), H Ja’far Yusuf Lc (alumni Damaskus Suriah) dan Tgk Kasim Sulaiman (tokoh pesantren).
“Mari kita jaga wakaf ini dengan baik, demi anak cucu kita dimasa depan,” harapnya.(Bahrul)






