SABANG|METRO ACEH-Kota Sabang kini tidak lagi sekadar dikenal sebagai titik nol kilometer Indonesia, tetapi juga berkembang sebagai “miniatur Indonesia” yang memadukan keberagaman budaya dengan pesona alam. Identitas ini dinilai menjadi kekuatan baru dalam meningkatkan daya saing pariwisata Pulau Weh.
Kepala Dinas Pariwisata Kota Sabang, Harry Susethia, menegaskan bahwa posisi strategis Sabang tidak hanya memiliki makna geografis, tetapi juga simbol persatuan bangsa. Keberagaman suku dan budaya yang hidup harmonis di wilayah ini menjadi modal penting dalam mendorong pertumbuhan sektor pariwisata.
“Sabang adalah miniatur Indonesia di ujung barat. Keberagaman yang hidup rukun di sini menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang ingin merasakan pengalaman yang autentik,” ujarnya, Rabu (14/1/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurutnya, kekuatan pariwisata Sabang terletak pada perpaduan antara kekayaan tradisi dan keindahan alam yang masih terjaga. Saat ini, wisatawan tidak hanya mencari panorama, tetapi juga pengalaman budaya, mulai dari kuliner khas, seni, musik, hingga kerajinan tangan yang mencerminkan kearifan lokal Aceh.
Tren kunjungan wisatawan yang terus meningkat menunjukkan bahwa kombinasi wisata alam dan budaya masih menjadi daya tarik utama. Kondisi ini turut mendorong kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia, termasuk pemandu wisata lokal.
“Keberagaman ini harus dikelola secara berkelanjutan. Jika ditangani secara profesional, akan memberikan dampak ekonomi yang luas bagi masyarakat,” tambah Harry Susethia.
Selain budaya, sektor bahari tetap menjadi tulang punggung pariwisata Sabang. Kawasan seperti Pulau Rubiah dikenal sebagai salah satu lokasi selam kelas dunia yang menarik minat wisatawan mancanegara. Keindahan bawah laut, air yang jernih, serta panorama matahari terbenam menjadi daya tarik yang sulit ditandingi.
Didukung hutan tropis yang masih alami dan kondisi perairan yang bersih, Sabang memiliki keunggulan kompetitif dibandingkan destinasi lain. Namun, menurut Harry Susethia, potensi tersebut harus diimbangi dengan upaya pelestarian lingkungan serta penguatan nilai toleransi di tengah masyarakat.
“Dengan persatuan dan kolaborasi semua pihak, Sabang akan terus berkembang sebagai destinasi unggulan, bukan hanya sebagai simbol geografis, tetapi juga sebagai cerminan nilai persatuan Indonesia,” pungkasnya. (Red)






