BIREUEN|METRO ACEH – Ketua Program Studi (Kaprodi) Perbankan Syariah Universitas Islam Aceh (UIA), Paya Lipah Peusangan, Kabupaten Bireuen, Pocut Ainiah, SE.,ME dengan Asosiasi Prodi Keuangan dan Perbankan Syariah (APSKPS) melaksanakan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Internasional di Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, dari tanggal (16-18/9).
Kegiatan akademik lintas negara ini berfokus pada penguatan potensi ekonomi lokal, digitalisasi pemasaran pariwisata, serta literasi keuangan syariah.
Ketua Prodi Perbankan Syariah UIA, Pocut Ainiah,SE.,ME, Rabu (23/9) menyampaikan bahwa rangkaian kegiatan diawali di Desa Wisata Sasak Ende Sengkol, Kecamatan Pujut, Rabu (16/9) lalu.
Program itu mengusung fokus pengembangan pariwisata berbasis budaya lokal dan pemasaran digital internasional guna memperluas jangkauan promosi hingga ke mancanegara.
“Pendekatan ini memadukan pelestarian identitas budaya dengan pemanfaatan teknologi digital yang relevan sesuai dengan perkembangan industri pariwisata global. Melalui program ini, potensi budaya dan tradisi Sasak dikomunikasikan secara kreatif melalui berbagai kanal digital,” jelasnya.
Pocut Ainiah menambahkan, rangkaian PkM Internasional dilanjutkan di Desa Wisata Sade yang melibatkan akademisi dan perwakilan perguruan tinggi anggota APSKPS dari dalam dan luar negeri dengan mengangkat tema.
“Strengthening the Local Economic Ecosystem of Lombok through Islamic Financial Literacy, Business Digitalization, and Sustainable Entrepreneurship Based on International University Collaboration.”
Artinya dalam Bahasa Indonesia yaitu “Penguatan Ekosistem Ekonomi Lokal Lombok melalui Literasi Keuangan Syariah, Digitalisasi Bisnis, dan Kewirausahaan Berkelanjutan Berbasis Kolaborasi Universitas Internasional”.
Selama kegiatan, para akademisi memberikan edukasi intensif mencakup tiga pilar utama yaitu literasi keuangan syariah untuk pengelolaan finansial berbasis prinsip syariah, digitalisasi bisnis guna memperluas akses pasar pelaku usaha lokal, serta prinsip kewirausahaan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan dan sosial.
Sinergi antara perguruan tinggi, pengelola desa wisata, dan masyarakat ini diharapkan mampu mengakselerasi Desa Wisata Sasak Ende dan Sade sebagai destinasi berkelas internasional tanpa menghilangkan karakter budaya lokal yang menjadi identitas utamanya, terang Pocut. (Rahmat Hidayat)






