oleh

BERHASILKAH TRUMP “MEMPERTAHANKAN GELAR” DALAM PILPRES 2020?

-OPINI-22 Dilihat

Oleh : Toni Ervianto

Jika tidak ada aral melintang, pada 4 November 2020 nanti, rakyat Amerika Serikat yang memiliki hak memilih dan berniat untuk memenuhi hak politiknya tersebut akan mencoblos untuk menentukan siapa Presiden Amerika Serikat berikutnya untuk periode 2020 s.d 2024?

Sebelum itu, ada beberapa tanggal menarik untuk memonitor persiapan Pilpres AS yaitu tanggal 4 Maret 2020 akan diadakan Pemilu pendahuluan serentak. Sembilan negara bagian akan mengadakan Pemilu Pendahuluan mereka pada saat yang sama, termasuk enam negara bagian terpadat di Amerika. Hasilnya mungkin akan menunjukkan siapa yang akan menjadi calon presiden dari partai Demokrat, namun itu masih belum bisa dipastikan, tergantung pada hasilnya nanti.

Kemudian pada 11 Maret 2020 akan diadakan Pemilu pendahuluan serentak jilid kedua. Enam negara bagian lainnya akan mengadakan Pemilu Pendahuluan pada hari yang sama. Pada akhir Maret, lebih dari dua pertiga dari delegasi yang tersedia akan ditentukan. Hasilnya akan lebih jelas menunjukkan siapa yang akan menjadi calon Partai Demokrat.

Tanggal 14 Juli 2020 akan dilakukan Konvensi Nasional Partai Demokrat. Di tanggal ini Partai Demokrat akan mengumumnkan kandidat terpilihnya secara resmi, dan menghujani mereka dengan pidato yang panjang dan berlarut-larut. Kita hampir pasti akan mengetahui kandidat terpilih sebelum tanggal ini, berkat hasil pemilu-pemilu pendahuluan yang disebutkan di atas.

Tanggal 25 Agustus 2020, akan dilakukan Konvensi Nasional Partai Republik. Hampir bisa dipastikan, tidak akan ada kejutan besar. Trump akan menjadi kandidat Partai Republik. Meski begitu, tetap akan ada pesta perayaan.
Kemudian tanggal 19 September 2020, akan dilakukan Pemilu awal dimulai Pemilu awal dalam pilpres dimulai di Minnesota.

Beberapa negara bagian akan memulai pemilu awal di hari berikutnya. Selanjutnya, tanggal 30 September 2020 akan digelar debat Presiden pertama. Trump dan lawannya dari Partai Demokrat akhirnya naik ke panggung untuk yang debat presiden pertama mereka. Akan ada total tiga debat presiden. Setelah itu, pada tanggal 8 Oktober 2020 akan dilakukan debat Wakil Presiden. Wakil Presiden Mike Pence akan berdebat dengan calon wakil presiden dari Partai Demokrat. Ini adalah satu-satunya kesempatan mereka bertemu di panggung debat. Berturut-turut pada tanggal 16 Oktober 2020 akan diadakan debat Presiden kedua, dilanjutkan pada 23 Oktober 2020 diadakan debat Presiden ketiga, sebelum akhirnya pada pukul 08:00 WIB tanggal 4 November 2020, Pilpres AS akan digelar.

Banyak yang berminat

Pilpres Amerika Serikat mendatang banyak diminati politisi di AS untuk “mengadu nasib”nya. Ada beberapa nama kandidat Pilpres 2020. Pertama, Donald Trump. Sang petahana Donald Trump tampaknya tak terburu-buru mendaftarkan diri untuk maju lagi dalam pilpres. Donald Trump adalah lulusan Wharton School of Business University of Pennsylvania, dengan gelar sarjana ekonomi. Menurut Tax Policy Center, Trump meloloskan undang-undang yang efektif mengurangi pajak 80 persen warga Amerika dan angka pengangguran rendah. Meski menikmati stabilitas ekonomi, namun Trump penuh kontroversi. Mulai dari pelecehan seksual, skandal seks, kebijakan imigrasi, dugaan intervansi Rusia dalam kampanyenya, hingga pajak pendapatan.

Kedua, mantan CEO Starbucks, Howard Schultz. Milioner berusia 65 tahun ini mantap maju dalam pilpres lewat jalur independen. Ia berpegang pada data bahwa lebih dari 40 persen warga AS akan memilih calon dari jalur independen. Meski rekannya di partai Demokrat menyesalkan pilihan Schultz karena dalam sejarah AS, calon dari independen belum pernah menang.

Ketiga, Michael Bloomberg. Pada tahun 2016, milioner pemilik media terkemuka Bloomberg maju dalam pilpres lewat jalur independen. Pengalaman itu jadi panduannya. Ia pun merespons pilihan Schultz maju nyapres dari jalur independen dengan mengatakan dirinya dalam Pilpres 2020 akan maju menggandeng Partai Demokrat. Jika tidak dipilih dalam konvensi nasional Partai Demokrat, Bloomberg akan maju dari jalur independen.

Keempat, Kamala Haris. Senator California ini pada Senin (21/1/2019) bertepatan dengan ulang tahun Martin Luther King Jr, mengumumkan pencalonannya dalam pilpres 2020. Ia menjadikan dirinya perempuan kulit hitam pertama yang maju dalam pilpres 2020. Jika menang, maka Kamala akan mencatat sejarah sebagai perempuan kulit hitam pertama yang menjadi presiden AS. Harris lulus studi ilmu politik dan ekonomi dari Howard University dan meraih gelar hukum dari University of California Hasting College.

Kelima, Tulsi Gabbard. Ia merupakan politisi dari Partai Republik dari Hawaii. Wanita ini pemeluk Hindu pertama yang menjadi anggota DPR AS dan telah mengumumkan akan mencalonkan diri untuk pilpres 2020 melalui televisi di acara The Van Jones Show. Selain sebagai pemeluk Hindu pertama yang menjadi Kongres AS, perwakilan DPR dari Demokrat yang membidangi Komisi Urusan Luar Negeri adalah Samoa-Amerika pertama dan veteran perang Irak.
Keenam, John K. Delaney. Pria ini menjadi orang pertama yang menyatakan maju dalam pilpres AS 2020 dari partai Demokrat. Ia mantan anggota Kongres dari Maryland. Menolak dipilih lagi sebagai anggota Kongres pada tahun 2018 karena ingin fokus bertarung di pilpres 2020. Delaney mengumumkan dirinya maju dalam pilpres 2020 pada Juli 2018.

Ketujuh, Julian Castro. Ia mantan Menteri Perubahan dan Pembangunan Kota di masa Presiden Barack Obama, dan mantan wali kota San Antonio. Castro merupakan keturunan Latin pertama yang menjadi pembicara kunci di Konvensi Nasional Demokrat. Ia mengumumkan maju pilpres 2020 pada 12 Januari 2019.

Kedelapan, Elizabeth Warren. Senator Massahchussetts dari Demokrat dikenal sebagai pengkritik tajam Donald Trump, mulai dari kampanye hingga menjabat presiden dan bahkan menyerukan pemakzulan Trump.

Kesembilan, Kirsten Gillibrand. Senator New York dan mantan jaksa penuntut yang mengumumkan maju dalam pilpres pada 15 Januari 2019. Gillibrand juga vokal dalam berbicara kesetaraan perempuan dan pria dalam menempati posisi top di AS.

Kesepuluh, Cory Booker. Senator Cory Booker mengumumkan dia mencalonkan diri sebagai presiden dalam sebuah pesan video yang diunggah ke akun Twitter-nya pada 1 Februari. Booker, 49 tahun, menerima gelar sarjana muda dari Stanford dan gelar sarjana hukumnya dari Yale. Dia juga dianugerahi Beasiswa Rhodes bergengsi untuk belajar di Oxford. Setelah lulus dari sekolah hukum, ia pindah ke Newark, New Jersey, di mana ia memulai sebuah organisasi nirlaba legal untuk keluarga berpenghasilan rendah.

Kesebelas, Beto O’Rourke mengumumkan dia mencalonkan diri sebagai presiden dalam sebuah video yang diunggah pada 14 Maret. Pria berusia 46 tahun dan ayah tiga anak itu menjalani masa tiga masa jabatan di Dewan Perwakilan Rakyat setelah mengalahkan Silvestre Reyes, petahana delapan masa jabatan di pemilihan Demokrat 2012. Sebelum maju senat, O’Rourke adalah anggota dewan kota El Paso, anggota band punk dan pendiri perusahaan web dan perangkat lunak kecil. Dia lulus dari Universitas Columbia dengan gelar sarjana dalam bidang sastra Inggris. O’Rourke pernah ditangkap karena menabrak kendaraan saat mabuk pada tahun 1998, meskipun tuduhan itu dibatalkan setelah ia menyelesaikan program pendidikan yang diperintahkan pengadilan.

Keduabelas, Bernie Sanders. Setelah gagal mencalonkan diri sebagai kandidat Demokrat pada tahun 2016, Senator Bernie Sanders mencoba lagi. Pada 19 Februari, ia mengumumkan pencalonannya. Sanders lulus dari University of Chicago dengan gelar sarjana dalam bidang ilmu politik. Dia pindah ke Vermont beberapa tahun setelah lulus, di mana, setelah beberapa kampanye gubernur dan Senat yang gagal, dia terpilih sebagai wali kota Burlington selama empat periode berturut-turut.

Pada tahun 1990, ia terpilih menjadi anggota Dewan, menjadikannya sebagai calon independen yang pertama kali terpilih dalam majelis dalam beberapa dekade.
Ketika kursi Senat dibuka pada tahun 2005, Sanders memenangkan pemilihan dengan dukungan dari beberapa Demokrat terkemuka, termasuk Senator Chuck Schumer. Dia terpilih kembali untuk kedua kali.

Ketigabelas, John Hickenlooper, mantan Gubernur Colorado, mengumumkan ia mencalonkan diri sebagai presiden melalui pengumuman video dan penampilan “Good Morning America” pada 4 Maret. Hickenlooper meraih gelar sarjana dan pascasarjana di Universitas Wesleyan, di mana ia belajar bahasa Inggris dan geologi. Dia bekerja sebagai ahli geologi sampai dia diberhentikan pada awal 1980-an, dan kemudian mendirikan perusahaan alkohol, yang disebut Wynkoop Brewing Company. Dia menjabat dua periode sebagai wali kota Denver pada tahun 2003, dan kemudian terpilih menjadi gubernur Colorado pada tahun 2010. Masa jabatan gubernur kedua dan terakhirnya berakhir pada Januari.

Keempatbelas, Gubernur Negara Bagian Washington Jay Inslee mengumumkan dia mencalonkan diri sebagai presiden melalui pesan video pada 1 Maret. Dia sudah menetapkan memerangi perubahan iklim sebagai tema kampanyenya. Inslee pertama kali terpilih sebagai gubernur pada 2012, dan kemudian terpilih kembali pada 2016. Sebelumnya, ia bertugas di Dewan Perwakilan AS selama lebih dari satu dekade. Sementara di DPR, perubahan iklim juga merupakan masalah yang mendesak baginya, ia bertugas di Komite DPR untuk Energi dan Perdagangan. Inslee belajar ekonomi di University of Washington dan hukum di Willamette University. Inslee adalah salah satu Demokrat yang kurang dikenal yang bersaing untuk nominasi Demokrat tahun 2020. Dia juga akan menghadapi penolakan dari penyangkal iklim, dan mungkin mereka yang menentang solusi perubahan iklim yang drastis, seperti pajak karbon di seluruh negara bagian yang tidak berhasil dia dorong di tengah semester 2018.

Trump Diunggulkan di Polling

Hasil jajak pendapat (polling) CNN yang dilakukan lembaga riset SSRS menunjukkan mayoritas warga Amerika Serikat (AS) berpikir bahwa Donald Trump akan kembali memenangkan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2020 mendatang, meski didera isu perekonomian AS akan bergerak negatif. Polling terbaru ini mengungkap 54 persen responden menebak Trump akan kembali menang dalam Pilpres 2020, sedangkan 41 persen berpikir ia akan kalah. Lebih banyak warga AS yang yakin Trump bakal kembali menang, ketimbang Barack Obama kala akan kembali mencalonkan diri kembali saat Pilpres 2011. Dalam survei yang dilakukan setelah kematian Osama Bin Laden, sekitar 50 persen berpikir Obama akan menang dalam jajak pendapat itu.
Hasil polling CNN terbaru ini juga berbanding terbalik dibanding hasil polling serupa pada Desember 2018 yang menunjukkan mayoritas (51 persen) warga AS memperkirakan Trump tak bakal terpilih lagi.
Ketidaksukaan pada Presiden AS sangat terasa pada jajak pendapat, khususnya di antara responden yang tak memilih Trump. Diminta untuk menjelaskan dengan kata-kata mereka sendiri mengapa tidak setuju dengan Trump, sebagian besar menyebut kebohongan, rasisme, ketidakmampuan, dan tidak bertindak sebagai presiden sebagai alasan.
Sementara mereka yang menyetujui cara Trump menangani pekerjaannya sebagai Presiden fokus pada pencapaian dan isu-isu. Sekitar seperempat responden yang memilih Trump menyebut ekonomi sebagai alasan utama mereka mendukungnya, lalu disusul 12 persen karena alasan menepati janji, dan 5 persen terkait kebijakan perbatasan.
Sementara, Moody’s Analytics memperkirakan Presiden AS Donald Trump akan meraih kembali kemenangan dalam Pemilihan Presiden 2020. Proyeksi Moody’s berdasarkan pada bagaimana perasaan konsumen tentang situasi keuangan mereka, keuntungan di pasar saham selama Trump berkuasa, dan data pengangguran AS. Jika variabel-variable itu bertahan, Trump kemungkinan bisa kembali lagi menjabat selama 4 tahun sebagai presiden AS.
“Jika ekonomi sethun dari sekarang sama dengan saat ini atau kira-kira begini, maka kekuatan incumbent kuat dan peluang pemilihan Trump akan sangat bagus. Terutama jika (pendukung) Demokrat tidak antusias dan memutuskan untuk tidak memilih,” kata Kepala Ekonom Moodys’s Analytics Mark Zandi dikutip dari CNBC International, Rabu (16/10/2019).
Tiga model survei menunjukkan Trump akan mendapatkan setidaknya 289 suara elektoral. Peluangnya berkurang jika jumlah pemilih maksimum dari pihak Demokrat meningkat. Model pertama, survei ini mengukur bagaimana perasaan orang-orang tentang keuangan mereka. Dari skenario ini, dengan asumsi rata-rata jumlah orang yang tidak memiliki hak pilih, Trump akan memperoleh 351 suara sedangkan Demokrat hanya 187. Dalam model kedua, terkait pasar saham, Trump mendapat keunggulan 289 vs 249. Sementara model pengangguran Trump menang 332 vs 249.
Dikatakannya pasar modal juga menjadi kunci. Koreksi di pasar modal, misalnya hingga 12%, menjelang pemilu bisa sangat mempengaruhi perlombaan. Atau penurunan ekonomi tak terduga.
Sebelumnya dalam jajak pendapat CNN dilakukan oleh SSRS 28-31 Mei 2019 menggunakan sample acak dengan 1.006 orang dewasa yang dihubungi melalui telepon rumah atau ponsel oleh pewawancara langsung. Hasil untuk sampel penuh memiliki margin kesalahan pengambilan sampel plus atau minus 3,8 poin persentase.

Partai Demokrat Cari Jagoan Tangguh Untuk Lawan Trump

Persaingan memperebutkan tiket calon presiden ( capres) dari Partai Demokrat untuk menantang Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam pemilihan presiden AS 2020 mulai mengerucut. Walau sampai saat ini masih ada 20 kandidat yang bertarung, namun hasil survei terbaru yang dilakukan CBS bersama lembaga riset YouGov, yang dirilis Minggu (8/9/2019), menunjukkan tiga nama teratas. Ketiga nama itu mampu meraup dukungan hingga dua digit di empat negara bagian awal yang akan melakukan kaukus dan pemilihan pendahuluan. Mantan Wakil Presiden Joe Biden diketahui unggul di negara bagian Iowa dengan 29 persen. Sementara Senator Vermont Bernie Sanders mengikuti dengan 26 persen. Sedangkan di peringkat ketiga, Senator Massachusetts Elizabeth Warren mengumpulkan 17 persen dukungan. Tiga besar nama kandidat ini tidak berubah dalam survei di negara bagian lain, meski terjadi beda urutan peringkat. Di negara bagian New Hampshire, Warren memimpin dengan 27 persen, disusul Biden 26 persen, dan Sanders dengan 25 persen.
Sementara di Nevada, Sanders memimpin dengan 29 persen, diikuti Biden yangmeraih 27 persen dan Warren dengan 18 persen. Dukungan signifikan diraih Biden di negara bagian South Carolina, di mana dia unggul telak dengan dukungan 43 persen. Sementara Sanders meraih 18 persen dan Warren 14 persen dukungan.
Pesaing terdekat ketiga nama itu adalah Senator California Kamala Harris, Wali Kota South Bend Pete Buttigieg, dan mantan anggota DPR negara bagian Texas Beto O’Rourke.
Dalam kaukus Iowa (6/2/2020), mantan Wakil Presiden AS, Joe Biden, yang menjadi kandidat favorit hanya menempati peringkat ke-4. Dengan 97 persen suara telah masuk, posisi pertama ditempati kandidat Pete Buttigieg yang merupakan mantan Wali Kota South Bend di negara bagian Indiana. Buttigieg yang baru berusia 38 tahun ini meraih 26,2 persen suara delegasi.
Kandidat Bernie Sanders, yang merupakan Senator Vermont, mengekor di posisi kedua dengan 26,1 persen suara delegasi. Posisi ketiga ditempati oleh Senator Massachusetts, Elizabeth Warren, dengan 18,2 persen suara delegasi. Biden yang selama ini selalu unggul dalam berbagai polling, hanya mampu menempati posisi keempat dengan perolehan 15,8 persen suara delegasi. Di bawah Biden ada Senator Minnesota, Amy Klobuchar, dengan 12,2 persen suara delegasi.
Perkembangan terakhir pada awal Maret 2020, dua mantan kandidat calon presiden dari Partai Demokrat, Amy Klobuchar dan Peter Buttigieg, memutuskan untuk menarik pencalonannya pada seleksi capres dari partai ini. Mereka mengalihkan dukungan pada Joe Biden, mantan Wakil Presiden AS era Barack Obama.

Prediksi

Jika konvensi Partai Demokrat gagal memilih calon Presiden AS yang benar-benar “jagoan”, maka kekalahan akan menimpa lagi. Setidaknya dalam internal Partai Demokrat ada 3 (tiga) calon Presiden yang berpotensi kuat menantang Donald J Trump yaitu Joe Biden, Bernie Sanders dan Michael Bloomberg. Jika tidak terpilih dalam konvensi partai ini, Bloomberg dikabarkan akan maju dari jalur independen. Trump tampaknya lebih memperhatikan kemungkinan Joe Biden akan menjadi “final challenger”nya, terbukti pemerintahan Trump saat ini sibuk “mencari borok-borok” Biden untuk dijadikan propaganda mendown grade pencalonannya. Apalagi dua kandidat capres sudah mundur dan menyatakan mendukung Biden.
Tampaknya, konvensi Partai Demokrat akan memilih Biden atau Bloomberg, sedangkan Sanders sejak kekalahannya dari Hillary Clinton pada 2016 yang lalu, sebenarnya harus mawas diri dan “cukup untuk berhenti berkompetisi”. Jika Trump vs Biden dibandingkan dengan Trump vs Bloomberg, maka keduanya akan berjalan sengit. Namun, jika melawan Biden, peluang Trump untuk “di KO” cukup lebar. Hampir dapat dipastikan Pilpres AS tahun 2020 akan lebih ketat dari Pilpres AS tahun 2016 yang lalu, dan faktor Russia jelas akan menimbulkan “strategic surprises” lanjutan dalam rangkaian Pilpres 2020, dan Kremlin cenderung acc dengan Trump.
*) Penulis adalah pemerhati masalah internasional.

Komentar

News Feed