MGMP Sejarah Gelar Dialog Budaya Sebagai Narasumber di Gampong Pulo Iboeh Jangka

- Admin

Minggu, 18 Oktober 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BIREUEN|METRO ACEH – Guru sejarah di Kabupaten Bireuen, menggelar Dialog Budaya Sebagai Narasumber yang berlangsung dihalaman Meunasah Gampong Pulo Iboh, Kecamatan Jangka, Sabtu (17/10) pagi.

Kegiatan mengusung tema “Penguatan Perlindungan dan Penyelamatan Warisan Budaya Benda dan Takbenda Kabupaten Bireuen,” itu dibuka oleh Kasi Manajemen Guru, Tenaga Kependidikan dan Mutu Siswa pada Cabdin Wilayah IV Bireuen Zulfikri, SAg.,MM.

Kabid Kebudayaan Disdukbud Bireuen, Muhammad Tasrief kepada Metro Aceh dilokasi menjelaskan, kegiatan ini diselenggarakan oleh MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) Sejarah atas rekomendasi dari Disdukbud Kabupaten Bireuen.

Kegiatan ini dilaksanakan di Gampong Pulo Iboeh bertujuan untuk mengangkat kembali sejarah lokal yang mulai hilang/tertanam. Sesuai inventarisasi awal, ada situs/peninggalan sejarah berupa benteng tempat meriam. Namun lokasinya kini telah berubah jadi perkebunan.

Disampaikan juga bahwa acara ini dilaksanakan dalam bentuk dialog/diskusi sejarah untuk memunculkan kembali fakta-fakta sejarah, rumusan baru, serta menggali informasi lebih lanjut mengenai benteng tersebut.

​Para peserta yaitu guru-guru mata pelajaran Sejarah dan Geografi dari tingkat SMA serta turut mengundang guru dari tingkat SMP. Menghadirkan pemateri yaitu ​Saridin Guru Sejarah SMA, Mursyid dari Majelis Adat Aceh (MAA) bidang seni dan ​Rizki selaku pengamat/peneliti naskah dan manuskrip.

Muhammad Tasrief berharap melalui kegiatan ini membuka ruang perhatian dari Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah I Aceh serta Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) untuk selanjutnya menindaklanjuti data sejarah tersebut ke pemerintah pusat.

Juga harapannya melalui peran media dalam mempublikasi untuk membantu memperjelas dan mengkritisi jejak sejarah yang ada di daerah tersebut, terangnya.

Sementara itu, Kasi Manajemen Guru, Tenaga Kependidikan dan Mutu Siswa pada Cabdin Wilayah IV Bireuen Zulfikri, SAg.,MM dalam sambutannya mengatakan

Saat ini masih banyak sejarah lokal belum tergali secara optimal di daerah Kabupaten Bireuen seperti wilayah Jangka dan sekitarnya. Hal ini sangat penting bagi siswa/generasi muda untuk mengenali situs dan warisan sejarah di daerah sendiri.

Zulfikri dalam pertemuan itu juga menyampaikan sekolah diizinkan membawa para siswa mengunjungi tempat-tempat/situs bersejarah lokal dan tentu harus ada surat izin dari Kepala Sekolah.

“Pembelajaran sejarah dengan teori di dalam kelas perlu diimbangi dengan membawa siswa melihat langsung warisan kebudayaan dan sejarah daerah, ” sebutnya.

Mantan Kepala SMAN 1 Bireuen itu juga mendorong para guru sejarah dan berbagai pihak untuk aktif memublikasikan situs/kegiatan sejarah melalui media sosial agar lebih dikenal publik secara luas, harap Zulfikri.

Sejarah Meriam

Sementara itu, Keuchik Pulo Iboeh, Ismadin, didampingi Camat Jangka Muliyadi ditanyai sejarah tiga meriam dengan ukuran berbeda yang ada dihalaman meunasah setempat menjelaskan.

Terkait awal mula penemuan benda bersejarah berupa meriam belum mengetahui tahun berapa karena tidak ada sejarah yang tertulis hanya berdasarkan cerita lisan/cerita saja.

Dilokasi meriam ditemukan di Dusun Lamkuta yang dari cerita didengar dulu merupakan basis ule balang atau para raja-raja. Ditempat itu ada benteng dan bukan basis pertempuran tetapi pusat perkumpulan petinggi pada masa Kerajaan Aceh atau Kesultanan Aceh Darussalam sehingga meriam disimpan dilokasi tersebut.

Ditambahkan Keuchik lokasinya diketahui, tetapi letak lokasi pada zaman dahulu dengan saat ini berbeda, dulu dilokasi itu ada benteng. Sekarang tanah sudah diratakan menjadi kebun karena telah dijual kepada pemilik lain.

Setelah ditemukan masyarakat lalu dibawa pulang ke halaman meunasah Pulo Iboeh dengan waktu 4 hari 4 malam. “Tidak ada sejarah tertulis, saya belum tahu, tahun berapa meriam itu dibawa dari lokasi,” ungkap Keuchik. (Rahmat Hidayat)

Facebook Comments Box
Follow WhatsApp Channel www.metroaceh.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pemerintah Bantu Rp 30 Milyar Perbaiki Jalan Lueng Danun Sampai Pante Karya Rusak
Satlantas Razia Knalpot Brong di Kota Bireuen
Bupati Serahkan Lima Excavator Mendagri Tangani Banjir di Pante Kaya dan Rheum Barat
Dua Mahasiswa UNIKI Raih Juara di MQMN UNP 2026
Setujui Permintaan Bupati Bireuen, Kemendagri Serahkan Lima Escavator Tangani Banjir
Jangka Juarai Turnamen Sepak Bola Piala Bupati Bireuen
10.064 Warga Bireuen Sudah Miliki Identitas Kependudukan Digital
Polres Bireuen Gelar Latihan Penanggulangan Bencana

Berita Terkait

Minggu, 18 Oktober 2026 - 17:22 WIB

MGMP Sejarah Gelar Dialog Budaya Sebagai Narasumber di Gampong Pulo Iboeh Jangka

Minggu, 18 Oktober 2026 - 17:20 WIB

Pemerintah Bantu Rp 30 Milyar Perbaiki Jalan Lueng Danun Sampai Pante Karya Rusak

Minggu, 18 Oktober 2026 - 17:19 WIB

Satlantas Razia Knalpot Brong di Kota Bireuen

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 02:10 WIB

Bupati Serahkan Lima Excavator Mendagri Tangani Banjir di Pante Kaya dan Rheum Barat

Kamis, 15 Oktober 2026 - 22:51 WIB

Setujui Permintaan Bupati Bireuen, Kemendagri Serahkan Lima Escavator Tangani Banjir

Berita Terbaru

NANGGROE

Satlantas Razia Knalpot Brong di Kota Bireuen

Minggu, 18 Okt 2026 - 17:19 WIB