BIREUEN|METRO ACEH – Guna memberi pemahaman terkait kondisi cuaca dan mitigasi bencana. Badan Metereologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Aceh. Menggelar Sekolah Lapang Cuaca Nelayan, Iklim, Gempa Bumi dan Tsunami, di Aula Setdakab Lama, Rabu (7/10) pagi.
Program nasional kerja sama antara BMKG, DPR-RI Komisi V dan Pemkab Bireuen tersebut dibuka Kepala BMKG Republik Indonesia, Prof Ir Teuku Faisal Fathani, PhD dan dihadiri Wakil Bupati, Ir H Razuardi, MT serta Forkopimda, kepala dinas terkait dan para pejabat BMKG secara daring dan luring.
Ketua panitia pelaksana juga Kepala Stasiun Meteorologi (STa Met) Kelas I Sultan Iskandar Muda (SIM) Banda Aceh, Cucu Kusmayancu, S.Kom dalam laporannya mengatakan.
Kegiatan ini digelar sebagai langkah strategis dan komitmen kuat BMKG dalam mewujudkan pencapaian Program Kerja Prioritas Nasional (PKPN).
Kegiatan ini kolaborasi inovatif dari tiga bidang utama BMKG, yaitu meteorologi, klimatologi, dan geofisika. SLMKG diikuti 202 peserta yang terdiri dari 102 peserta Sekolah Lapang Cuaca Nelayan (SLCN), 50 peserta Sekolah Lapang Gempa Bumi (SLG), 50 peserta Sekolah Lapang Iklim (SLI).
“Melalui SLMKG di Kabupaten Bireuen ini, kami berharap lahirnya para pelopor dan duta literasi iklim, cuaca, serta mitigasi bencana di tengah masyarakat,” ungkapnya.
Wakil Bupati Bireuen, Ir H Razuardi, MT dalam sambutan mengucapkan terima kasih dan selamat datang kepada Kepala BMKG RI, Prof Ir Teuku Faisal Fathani, Ph.D, beserta jajaran di Kota Juang dan juga panitia pelaksana kegiatan ini.
Wilayah Kabupaten Bireuen memiliki karakteristik topografi dan geografis sangat rentan terhadap dinamika cuaca, iklim, serta potensi kebencanaan hidrometeorologi dan geofisika.
Kepada peserta, informasi cuaca, iklim, gempa bumi saat ini bukan lagi sekadar data teknis, melainkan kebutuhan mendasar bagi sektor pertanian, kelautan dan perikanan, kebencanaan, hingga kehidupan masyarakat.
“Saya berpesan kepada seluruh peserta, supaya manfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya untuk menyerap ilmu, teori, dan praktik langsung dari para narasumber dan para ahli di bidang MKG,” harapnya.
Sampaikan informasi yang didapat di sekolah lapang ini kepada masyarakat luas di lingkungan kerja dan tempat tinggal masing-masing, agar budaya sadar bencana dan adaptasi iklim dapat terbangun secara masif di Bireuen.
Perkuat sinergi dan koordinasi lintas sektor, baik antara Pemda, BMKG, BPBD, TNI/Polri, hingga relawan dan masyarakat, demi mewujudkan Bireuen yang tangguh bencana, pesan Wabup Razuardi.
Anggota Komisi V DPR-RI Fraksi PKB, H Ruslan M Daud, SE., MAP diwakili Staf Ahli Ferizal Hasan, SP.,MM mengharapkan para peserta untuk mengikuti acara ini secara baik, tertib, dan juga disiplin dari awal sampai terakhir.
Ini merupakan program aspirasi dari H Ruslan Daud yang setiap tahun kita laksanakan di Aceh, baik di Kabupaten Bireuen, Lhokseumawe, Aceh Utara, Aceh Timur, Aceh Tamiang, Aceh Tengah, Bener Meriah, dan di beberapa kabupaten lainnya.
Melalui kegiatan sekolah lapang ini peserta dapat mengetahui bagaimana situasi cuaca, iklim, dan juga potensi-potensi gempa dan tsunami yang akan terjadi di daerah kita, sebutnya.
Kepala BMKG RI, Prof Ir Teuku Faisal Fathani, Ph.D antara lain menjelaskan bahwa BMKG memiliki 191 Unit Pelayanan Teknis (UPT)/kantor di seluruh Indonesia.
Khususnya di Provinsi Aceh ada tujuh kantor BMKG yaitu berada di Sabang, Bandara Sultan Iskandar Muda, Stasiun Klimatologi Indrapuri, Stasiun Geofisika Mata Ie, Nagan Raya, Tapaktuan, dan Bandara Malikussuleh Lhokseumawe, pos di Bandara Rembele dan Blang Kejeren.
Saat ini BMKG didukung oleh sekitar 10.800 alat pemantau/sensor serta pemrosesan data menggunakan supercomputer di Jakarta.
Program sekolah lapang ini sudah dilaksanakan sejak 2012, dan telah melatih puluhan ribu peserta (champions) baik dari dana APBN maupun non-APBN seperti Bank Indonesia dan Pemda. “Saya harapkan peserta dapat meneruskan edukasi ke keluarga dan komunitasnya,” ujarnya.
Kegiatan ini juga bagian dari peningkatakan kapasitas (SDM) masyarakat dan pemerintah daerah dalam mendukung percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana.
Kabupaten Bireuen memiliki ancaman potensi gempa (patahan) dan tsunami.
“BMKG menerapkan protokol internasional untuk memberikan peringatan dini gempa dan potensi tsunami dalam waktu kurang 3 menit. Contoh keberhasilan kesiapsiagaan ditunjukkan pada gempa Flores, peringatan dini dikeluarkan dalam waktu 2 menit 13 detik sehingga masyarakat segera mengungsi dan meminimalkan korban jiwa,” ungkapnya.
Mamfaat Sekolah Lapang Iklim (petani) membantu pemahaman karakteristik iklim lokal yang berbeda-beda di tiap zona untuk mendukung produktivitas pertanian.
Sekolah Lapang Cuaca Nelayan: Memberikan informasi kondisi laut (gelombang, arus, angin) agar para nelayan tidak hanya mencari ikan tetapi menangkap ikan secara aman dan efektif, pungkasnya. (Rahmat Hidayat)






