BIREUEN|METRO ACEH-Bencana banjir yang menerjang Kabupaten Bireuen, sudah tujuh bulan lebih berlalu. Tapi kerusakan sarana dan infrastruktur serta mata pencaharian masyarakat belum pulih, mulai jalan, tamba dan sawah tidak ada air. Mirisnya, hingga kini belum tertangani, berdampak menghambat pertumbuhan ekonomi bahkan anjlok dan jadi dilema tersendiri di gampong, salah satunya di Pante Paku, Kecamatan Jangka.
Guna mendongkrak kembali pendapatan masyarakat kini terpuruk. Pemerintah diharap hadir ke gampong di tepian Selat Malaka itu untuk dapat melakukan intervensi atau penanganan terhadap ragam kerusakan infrastruktur dampak banjir dan abrasi pantai akibat pasang surut air laut.
Keluhan dan harapan tersebut disampaikan mantan Keuchik Pante Paku, Murhaban (51) kepada Metro Aceh, Minggu (7/6) pagi ditemui dilokasi objek wisata pantai Pante Paku yang sebelumnya ramai dikunjungi wisatawan lokal, kini mulai sepi pasca banjir.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Sudah tidak tahu bilang apalagi pak, kondisi ekonomi kami disini pasca banjir sangat menurun, ada sawah tidak ada air, tambak sudah rusak, nelayan sudah tiga bulan tidak bisa ke laut menebar pukat darat karena gelombang laut besar,” ungkapnya.
Untuk menutupi kebutuhan hidup sehari-hari juga sudah susah selama ini, berharap dari hasil jualan di objek wisata juga kondisi pengunjung sudah sepi. “Untuk memenuhi kebutuhan hari-hari ada buah kelapa di kebun itu saya jual,” kisahnya.
Murhaban mengharapkan agar pemerintah hadir ke Gampong Pante Paku dan memperbaiki ragam infrastruktur yang telah rusak dampak banjir bandang dan juga mencegah kerusakan tepi pantai akibat gelombang pasang purnama setiap tahun.
Diharapkan dibangun tanggul pemecah ombak sekitar 1 km lebih dari arah objek wisata Pantai Jangka sampai ke Kuala Pawon Jangka dengan harapan tepi pantai dan tambak, rumah warga dapat terlindungi dari gelombang pasang laut, harapnya. (Rahmat Hidayat).






