oleh

Gelar Cut Nyak Cahaya Jeumpa Dipertanyakan

IKLAN HUT

IKLAN HUT

IKLAN HUT

IKLAN HUT

BIREUEN|METRO ACEH-Puluhan pemuda dan tokoh masyarakat di Kecamatan Jeumpa, mempertanyakan pemberian gelar Tjut Nyak Cahaya Jeumpa, kepada Hj Rizayati SH yang dinobatkan akhir Juli lalu, di lokasi situs sejarah Raja Jeumpa kawasan Desa Blang Seupeung, Kecamatan Jeumpa.

Sejumlah tokoh pemuda, mukim serta tokoh masyarakat setempat, menggelar pertemuan guna membahas persoalan ini, Selasa (1/9) sore di Kirana Cafe Desa Blang Bladeh. Mereka, mempertanyakan asal usul gelar yang dinobatkan kepada owner PT Imza Rizky Jaya (IRJ) sebagai Tjut Nyak Cahaya Jeumpa, sekaligus suaminya Imran bin A Hamid bergelar Teungku Jeumpa.

IKLAN HUT

IKLAN HUT

Informasi yang diperoleh Metro Aceh menyebutkan, pertemuan lintas tokoh dan pemuda Jeumpa ini, turut dihadiri oleh Mukim Kuta Jeumpa, Tgk Manshur Abubakar, Mukim Blang Bladeh, Tgk Faisal Abdullah, Ketua Pemuda Blang Dalam, Andi Sulaiman, Ketua Pemuda Paloh Limeng, M Nazar, Ketua Pemuda Abeuk Usong, Rasyidi, Ketua Pemuda Cot Keutapang, Husni alias Kopral, mantan keuchik (kades-red) Abeuk Usong, M Dahlan dan puluhan tokoh masyarakat lainnya di daerah tersebut.

“Kami dari kalangan tokoh masyarakat dan pemuda Jeumpa, mempertanyakan asal usul penobatan gelar Cut Nyak Cahaya Jeumpa. Mengapa disematkan kepada Rizayati, apa dedikasi dia selama ini sehingga dianggap layak dan pantas, menerima gelar ini,” ungkap M Dahlan selaku salah satu tokoh masyarakat.

Menurutnya, penobatan itu dinilai kurang tepat dan tidak memintai pendapat dari masyarakat, maupun perangkat desa di Kecamatan Jeumpa. Bahkan, terkesan dipaksakan demi ambisi pihak tertentu, untuk mencari keuntungan pribadi serta kelompok. Dampaknya, sekarang mulai terjadi krisis kepercayaan di daerah itu, antara kalangan pemuda dengan tokoh yang menyematkan gelar kebangsawanan Raja Jeumpa ini.

Hal senada juga dikemukakan oleh Andi Sulaiman, menurut Ketua Forum Pemuda Jeumpa itu, pihaknya ingin memperoleh penjelasan tentang gelar ini. Sehingga, kelak tidak terjadi simpang siur kultur budaya dan sejarah, yang berdampak buruk dimasa mendatang.

“Kami tetap meminta penjelasan tentang penobatan gelar ini, supaya tidak sampai menjadi polemik di masyarakat, akibat perbuatan orang-orang yang terkesan memiliki tujuan tertentu,” pungkasnya.(Bahrul)

IKLAN HUT

IKLAN HUT

IKLAN HUT

IKLAN HUT

IKLAN HUT

IKLAN HUT

Komentar

News Feed