example banner

BIREUEN|METRO ACEH-Kisah pribadi dan pengalaman menjadi guru di era milenial, yang ditulis seorang tenaga pendidik dari SMA Negeri I Gandapura dalam sebuah buku, dilaunching pada acara perpisahan siswa sekolah itu, Sabtu (13/4).

Buku berjudul “Menuju Guru Milenial” karya Gustina Fitriani S.Pd yang diluncurkan hari ini, menjadi salah satu referensi menarik bagi para pendidik. Karena, selain kisah yang diangkat menceritakan peran serta fungsi guru, di era digital dengan aneka dinamika dan solusinya. Berbagai cerita lain seputar dunia pendidikan, juga turut melengkapi karya guru Bahasa Indonesia itu.

Launching buku "Menuju Guru Milenial" di SMAN I Gandapura, pada acara perpisahan sekolah itu, Sabtu (13/4).
Launching buku “Menuju Guru Milenial” di SMAN I Gandapura, pada acara perpisahan sekolah itu, Sabtu (13/4).

Informasi yang diperoleh Metro Aceh menyebutkan, buku itu terinspirasi dari pengalaman Gustina Fitriani, dalam menjalankan profesi guru selama ini. Termasuk, suka duka mendidik siswa yang umumnya dari kawasan pedesaan, dengan tingkat pemahaman tehnologi masih terbatas.

Sehingga, menuntut guru untuk mencari metode efektif, supaya mampu memberi ilmu yang berguna, dengan peranserta tenaga pendidil yang lebih dominan, agar para pelajar dapat menjadi generasi milenial yang handal.

“Buku Menuju Guru Milenial merupakan karya tulis saya, tentang peran dan fungsi guru di era digital ini, atau sering diistilahkan guru zaman now. Karena saya yakin, guru yang cerdas itu selalu mengikuti perkembangan zaman, untuk mendidik siswa agar semakin cerdas dan berprestasi,” ungkap Gustina Fitriani ketika ditemui awak media ini tadi pagi.

Selain karya tulis guru itu, dua buku hasil karya siswa sekolah tersebut, juga turut dilaunching bersamaan. Yakni antologi cerpen berjudul Titipan Rindu Dari Siswa dan buku Catatan Cinta Siswa Gandapura.

Kepala sekolah SMAN 1 Gandapura, Abdullah S.Pd pada kesempatan itu mengatakan, buku karya siswa-siswi kelas XI, XII hasil bimbingan ibu Gustina sebagai guru bahasa indonesia, yang memberi motovasi dan bimbingan agar karya perdana ini bisa terwujud. Meskipun masih banyak kekurangan, namun dapat menghasilkan karya tulis.

“Buku ini kita harapkan dapat menjadi pengayaan literasi, yang menjadi salah satu tolak ukur pelaksanaan literasi di sekolah kami. Semoga karya tulis ini, juga menjadi kenang-kenangan dari para siswa yang terlibat dalam penulisan buku ini,” sebutnya. (Fazli)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *